Rabu, 20 Maret 2013

Sejarah Penulisan AL-QURAN

BAB I

PENDAHULUAN






A.     Latar Belakang
Alquran adalah pedoman hidup, petunjuk, pembawa kabar gembira, ancaman, dan segala aturan- aturan hidup manusia yang harus kita baca, pahami, dan kita amalkan.
Seiring dengan perkembangan zaman dan banyaknya fenomena yang perlu kita ketahui yang   tersirat dalam Alquran dengan tujuan untuk kemaslahatan umat, maka kami mengambil tema tentang Sejarah Penyempurnaan Alquran setelah masa Nabi Muhammad SAW. Berangkat dari pemahaman bahwa ayat-ayat al-quran merupakan petunjuk bagi manusia, maka kami membuat makalah ini sebagai  salah satu wasilah  dalam upaya menjaga kemurnian alquran.

B.           Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini adalah :
1       Untuk mengetahui sejarah penyempurnaan dan pemeliharaan Alquran setelah Nabi Muhammad SAW wafat.
2       Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah pendidikan dasar Alquran.

C.           Rumusan Masalah
           Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1       Sejarah penyempuranaan pemeliharaan Alquran setelah Nabi Muhammad SAW.
2       Penulisan Alquran pada masa Abu Bakar.
3       Penulisan Alquran pada masa Ustman.
4       Penyempurnaan penulisan Alquran setelah masa Khulafaur Rasyidin.









                                                                                                                                  
BAB II
PEMBAHASAN

A.           Penulisan Alquran pada masa Abu Bakar
   Setelah Nabi Muhammad SAW. wafat dan Abu Bakar diangkat sebagai Khalifah maka banyak terjadi gerakan-gerakan yang menimbulkan perpecahan dan meresahkan umat islam, seperti gerakan keluar dari agama Islam yang dipimpin Musailamah Alkadzab,  maka terjadilah peperangan, yang umat Islam sendiri dipimpin oleh Khalid bin Walid. dalam perang itu menimbulkan banyak korban dari pihak Islam yaitu 70 orang sahabat yang hafal Alquran terbunuh kemudian setelah kejadian itu mendorong umat agar Abu Bakar membukukan alquran dan kemudian diutuslah Zaid bin Tsabit sebagai penulis penghimpun Alquran.
Dalam melaksanakan tugasnya Zaid bin Tsabit berpegang pada 2 hal yaitu:
1.   Ayat ayat Alquran yang ditulis pada masa Nabi Muhammad SAW disimpan di rumah beliau.
2.   Ayat ayat Alquran yang dihapal oleh para Sahabat lainnya yang hafidz Alquran[1]
 Zaid tidak  mau menerima tulisan ayat ayat Alquran, kecuali disaksikan oleh 2 orang saksi yang adil  dan meyakini bahwa ayat itu benar benar ditulis dihadapan Nabi Muhammad dan atas perintah dan petunjuknya.[2]

B.           Penulisan Alquran pada masa Utsman
   Sahabat Hudzaifan pada masa pemerintahan Utsman menyarankan kepada beliau agar segera mengusahakan penyeragaman bacaan Alquran dengan cara penyeragman penulisannya. Hal itu disebabkan oleh perbedaan tentang bacaan Alquran.
   Utsman dapat menerima pemahaman atas usul Hudzaifah, kemudian di bentuk panitia yang terdiri dari 4 orang, yakni  terdiri dari:
1.      Zaid bin Tsabit
2.      Sa’id bin Ash
3.      Abdullah bin Zubair
4.      Abdurrahman bin Harits[3]
           Perbedaan pengumpulan mushaf Alquran pada masa Abu Bakar dan Ustman ada dalam hal motif dan caranya. Motif pengumpulan Alquran pada masa Abu Bakar adalah kehawatiran akan hilangnya Alquran karena banyak nya para huffadz yang gugur dalam peperangan, sedangkan motif pada masa Utsman adalah karena banyaknya perbedaan cara membaca Alquran, sedangkan dalam perbedaan dari segi cara, yaitu pada masa Abu Bakar ialah memindahkan tulisan atau catatan Alquran yang semula bertebaran pada kulit binatang, tulang, pelepah kurma dsb. kemudian dikumpulkan dalam mushaf dengan ayat dan surat yang tersusun serta terbatas pada bacaan yang tidak dimansuhk dan mencakup ke tujuh huruf (dialek) sebagai mana Alquran diturunkan. sedang cara pengumpulan yang dilalukan pada masa Utsman adalah menyalinnya dalam satu dialek dengan tujuan  untuk mempersatukan kaum muslimin.

C.           Penyempurnaan Penulisan Al-quran Setelah Masa Khulafa Al-Rasyidin
1.      Mushaf Utsmani itu tidak memakai tanda baca, baik titik maupun syakal, karena    semata mata di dasarkan pada watak pembawaan orang orang Arab yang masih murni.
2.        Tetapi ketika Islam telah tersebar luas dan Alquran dibaca dan dipelajari umat Islam di luar orang Arab, maka para penguasa pada saat itu merasa perlu untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan penulisan mushaf dengan menggunakan syakal, titik dll. orang yang pertama melakukan perbaikan terhadap penulisan Alquran, menurut pendapat sebagian ulama adalah Abdul Aswad Ad Duali (ulama ahli bahasa) atas perintah Ziad (Gubernur Basroh), masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
3.         Sebab sebab pembuatan tanda baca Alquran adalah ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengajak bicara Abdullah bin Ziad (putra Ziad). namun pembicaraan Abdullah bin Ziad banyak yang salah dan kemudian mendapat teguran dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan.  dari teguran itu lah Ziad menyuruh kepada Abdul Aswad Ad Duali untuk memberi tanda baca.
4.         Kemudian Abdul Aswad Ad Duali memerintahkan kepada laki-laki dari Qabilah Quraisy, dia menyuruh untuk memberi tanda baca dengan warna yang berbeda dengan tulisan mushaf, yaitu jika membuka bibir maka berilah tanda titik di atas huruf nya dengan sebuah titik, bila mendomahkannya dalam  (monyong) maka berilah tanda titik di depan huruf nya, bila mengkasrahkan (pecah) maka berilah tanda titik di bawahnya, bila membacakan suara tanwin maka berilah dua titik.
5.         Akan tetapi tanda tanda baca yang di buat Abdul Aswad Ad Duali belum dapat menghindari kecederaan dalam membaca Alquran,  oleh sebab itu disempurnakanlah oleh Nashr bin Ashim yang kemudian di sempurnakan lagi oleh Khalil bin Ahmad (Ulama Abasiyah) dengan cara memberi tanda fatah dengan “ ا ” kecil, domah dengan “ و” kecil, kasrah dengan “ ى” kecil ( yang dikenal dengan syakal), kemudian tasdyid dengan kepala “ س” dan tanda sukun dengan kepala" ه "  dsb.
6.        Kemudian secara bertahap orang-orang mulai meletakan nama-nama surat dan bilangan ayat dan rumus-rumus yang menunjukan kepala ayat dan tanda-tanda wakof. tanda wakof ladzim dengan ( م ),  wakof mam’nu ( لا ),  wakof jaiz ( ج ), lalu pembuatan tanda juz, tanda hizb dan penyempurnaan lainnya.[4]

D.           Sekitar Tulisan Al-quran
1.    Bentuk tulisan yang dipergunakan untuk menulis Alquran dan para ahli di masa lalu
                 Awal mula belajar menulis diantara orang Arab ialah Basyir bin Abdul Malik saudara Ukaidar daumah, ia belajar pada orang Al-Anbar, Harb dan anaknya Sufyan belajar menulis padanya,  kemudian Harb mengajar Umar bin Khattab. Mu’awiyyah belajar pada Sufyan Bapak kecilnya tulisan orang Al-Anbar, kemudian diperbaiki (disempurnakan)oleh Ulama Kufah.
               Tulisan itu tiada berbaris dan tiada bertitik. kemudian bentuk tulisan itu diperbaiki oleh Abu Ali Muhamad bin Ali bin Muqlah dan kemudian diperbaiki lagi oleh Ali bin Hilal Al Bagdady yang terkenal dengan nama Ibnu Bawab.
               Setelah banyak yang bukan orang arab masuk islam, mulailah ada kecederaan dalam pembacaan Alquran, Maka timbullah kakhawatiran para ulama bahwa Alquran akan mengalami kecederaan-kecederaan. Ketika itu Ziyad bin Abihi meminta kepada Abul Aswad Ad-Duali salah seorang ketua tabi’in untuk membuat tanda-tanda bacaan. Lalu Abul aswad Ad-Duali memberi baris huruf dan penghabisan dari kalimah saja dengan memakai titik di atas sebagai baris di atas, titik di bawah sebagai tanda baris di bawah dan titik di samping sebagai tanda di depan dan dua titik sebagai tanda baris dua.
               Usaha menberi titik huruf Alquran itu dikerjakan oleh Nashar bin Ashim atas perintah Al-Hajjaj. Urusan memberi baris dikerjakan oleh Khalil bin Ahmad. Khalil Bin ahmad memberi sistem baris Abul Aswad Ad-Duali dengan menjadikan alif yang dibaringkan di atas huruf, tanda baris di atas dan yang dibawah huruf tanda baris di bawah, dan wau tanda baris di depan dan membuat tanda mad (panjang bacaan) dan tsdyd (tanda huruf ganda).
               Setelah itu barulah penghafal-penghafal Alquran membuat tanda-tanda ayat, tanda tanda wakaf (berhenti) dan ibtida (mulai) serta menerangkan di pangkal-pangkal surat, nama surat dan tempat tempat turunnya di Mekah atau Madinah dan menyebutkan bilangan ayat nya.
               Selain itu ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa yang mula mula memberi titik dan baris  ialah Al-Hasan Al-Bishry dengan suruhan Abdul Malik bin Marwan. Abdil Malik bin Warwan memerintahkan kepada Al-hajjaj dan Al-hajjaj  menyuruh Al-Hasan Al-Bishry dan Yahya bin Ya’mura,murid Abul Aswad Ad- Duali[5].
2.    Mushaf sesudah Utsman
                  Dari naskah-naskah yang dikirim Ustman itu, umat Islam menyalin Alquran untuk mereka masing masing dengan sangat hati hati dan cermat. Abdul Aziz  bin warwan Gubernur Mesir, setelah menulis mushafnya beliau menyuruh orang memeriksanya seraya berkata: ”barang siapa dapat menunjukan barang suatu kesalahan dalam salinan ini, diberikan kepadanya seekor unta dan 30 dinar”.  diantaranya yang memeriksa itu ada seorang Qari yang dapat menunjukan suatu kesalahan,yaitu perkataan Naj’ah harusnya na’jah[6]
                 Maka dengan tersebarnya mushaf-mushaf tersebut, umat Islam bersungguh-sungguh dalam menghafal Alquran, mentadwinkan hafalannya dan menyalin mushaf-mushaf nya.
3.    Permulaan Alquran dicetak
                 Alquran pertama kali dicetak di Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M. diawal abad ke­-12 Hijriyah[7].
4.    Cara menulis Alquran yang dipakai untuk menulisnya di luar mushaf.
                 Menulis mushaf mengikuti cara yang dipakai dalam penulisan mushaf Khalifah ke-3 yaitu pada masa khalifah Ustman, yang dilaksanakan oleh komisi yang terdiri dari sahabat-sahabat besar, dan tulisan-tulisan itu dinamai Resam utsmani.
                              Dalam menulis Alquran mempunyai 3 pendapat :
a.    Tidak di bolehkan sekali-sekali kita menyalahi khat ustmani, baik dalam menulis و maupun dalam menulis  ا, dan dalam menulis yang lain-lainnya. Pendapat ini dipegang erat oleh imam Ahmad. Abu ‘Amer Ad Dany berkata: ”tidak ada yang menyalahi apa yang dinukilkan imam malik, yaitu tidak boleh kita menulis Alquran selain dengan yang ditetapkan oleh para sahabat itu[8].”
b.    Tulisan Alquran itu bukan tauqifi : bukan demikian diterima dari syafa’ tulisan yang sudah ditetapkan itu, tulisan yang dimupakatkan menulisnya dimasa itu. Ibnu khaldun dalam muqaddimahnya, dan Alqadli Abu bakar dalam kitab Al intishar, Beliau berkata:  “Tuhan tidak mewajibkan kita menulis Alquran dengan cara yang tertentu”.[9] Rasulullah SAW, hanya memerintahkan menulis Alquran dan tidak menerangkan cara menulisnya.
c.     Pengarang Attibyan dan Al-burhan memilih pendapat yang dipahamkan dari perkataan Ibnu ‘Abdis salam, yaitu kebolehan kita menulis Alquran untuk manusia umum menurut istilah-istilah yang dikenal oleh mereka dan tidak diharuskan kita menulis menurut tulisan lama. Karena dikhawatirkan akan meragukan mereka.
      Dan harus ada orang yang memelihara tulisan lama sebagai barang pustaka yakni orang ‘Arifin. Maka kami menulis ayat-ayat menurut istilah baru (istilah para ulama) sesuai dengan undang-undang Imla’ yang mudah dibaca orang. Dan tidak ada salahnya pula orang menulis ayat-ayat dengan tulisan latin, asal qiraatnya benar.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo